Senin, 16 Desember 2013

Peran Penting Organizational Citizenship Behavior (OCB) dalam Organisasi

Oleh :  Dian Dwi Nur Rahmah
Magister Profesi Psikologi, Universitas Islam Indonesia, Indonesia

Abstract
Banyak kasus yang terjadi pada organisasi yang disebabkan oleh perilaku organisasi yang tidak sesuai dan menyebabkan organisasi tidak berjalan semestinya. Perilaku yang menjadi tuntutan organisasi saat ini tidak hanya perilaku in-role, tetapi juga perilaku extra-role (disebut juga dengan Organizational Citizenship Behavior/OCB). Tulisan ini akan membahas mengenai apakah itu OCB dan sejauh mana peran penting OCB di dalam sebuah organisasi? Perilaku karyawan yang menunjukkan OCB yang baik akan mampu mendukung kinerja individu dan kinerja organisasi untuk pencapaian iklim organisasi yang lebih baik.
Keyword : OCB

Organisasi pada umumnya percaya bahwa untuk mencapai keunggulan harus mengusahakan kinerja individual yang setinggi-tingginya, karena kinerja individual tersebut akan mempengaruhi kinerja tim dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Kinerja yang baik mewajibkan individu melakukan perilaku yang sesuai yang diharapkan oleh organisasi. Namun dalam penerapannya, kinerja tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan. Contoh kasus yang marak terjadi yang tertuang dalam harian kompas (“121 PNS bolos kerja”, 2012) yaitu pada hari pertama masuk kerja pasca libur bersama lebaran, Bupati Situbondo, Jawa Timur, Dadang Wigiarto mendapati 121 pegawai negeri sipil (PNS) membolos. Menurutnya, ratusan PNS yang tidak masuk ada yang berasalan karena sakit, cuti, atau menjalani pendidikan, dan 58 lainnya membolos tanpa keterangan. Kasus yang terjadi diatas adalah merupakan sebagian bukti rendahnya kualitas SDM di Indonesia terutama pada masalah mental dan budaya kerjanya. Hal ini akan mempengaruhi efektifitas dan efisiensi organisasi. Oleh karena itu, perlu adanya kemauan juga kemampuan dari tiap individu untuk bisa menjadi agen perubahan dalam organisasi.
Individu juga perlu memiliki keterampilan untuk dapat bekerja dalam tim seperti komunikasi dan kemampuan berperan serta dalam seluruh aktivitas tim. Keterampilan-keterampilan interpersonal hanya dapat ditampilkan oleh individu yang peduli terhadap individu yang lain dan berusaha menampilkan yang terbaik jauh melebihi yang menjadi syarat dalam pekerjaannya. Perilaku yang menjadi tuntutan organisasi tersebut saat ini tidak hanya perilaku in-role, tetapi juga perilaku extra-role (disebut juga dengan Organizational Citizenship Behavior/OCB) atau perilaku kewarganegaraan. OCB merupakan aspek yang unik dari aktifitas individual dalam kerja. Organisasi akan berhasil apabila karyawan tidak hanya mengerjakan tugas pokoknya saja namun juga mau melakukan tugas extra lainnya seperti mau bekerja sama, tolong menolong, memberikan saran, berpartisipasi secara aktif, memberikan pelayanan ekstra kepada pengguna layanan, dan mau menggunakan waktu kerjanya secara efektif. Fakta menunjukkan bahwa organsisasi yang mempunyai karyawan yang memiliki OCB yang baik akan memiliki kinerja yang lebih baik dari organisasi lain (Robbins & Judge, 2008). Oleh karena itu, penulis bertujuan untuk mengetahui peran penting OCB di dalam organisasi.

Metode
Penulis melakukan analisis kualitatif dengan menggunakan review literatur mengenai OCB.

Hasil
Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Kedudukan OCB sebagai salah satu bentuk perilaku extra-role telah menarik perhatian dan perdebatan panjang di kalangan praktisi organisasi, peneliti maupun akademisi. Menurut Posdakoff, Mackenzie, Paine, dan Bachrach (2000) mencatat lebih dari 150 artikel yang diterbitkan di jurnal-jurnal ilmiah dalam kurun waktu 1997 hingga 1998.
OCB menjadi sebuah variabel dalam perilaku organisasi. Organ dan Ryan (1995) memberikan definisi bahwa OCB adalah perilaku bebas individu yang secara eksplisit atau secara tidak langsung diakui oleh sistem formal, dan secara agrerat berfungsi dengan efektif dan efisien dalam sebuah organisasi. Selain itu, OCB juga bersifat bebas dan sukarela karena perilaku tersebut tidak diharuskan oleh persyaratan peran atau deskripsi jabatan, yang secara jelas dituntut berdasarkan kontrak dengan organisasi, melainkan sebagai pilihan individu (Podsakoff dkk, 2000). OCB juga sering diartikan sebagai perilaku yang melebihi kewajiban formal (extra role) yang tidak berhubungan dengan kompensasi langsung. Artinya, seseorang yang memiliki OCB tinggi tidak akan dibayar dalam bentuk uang atau bonus tertentu, namun OCB lebih kepada perilaku sosial dari masing-masing individu untuk bekerja melebihi apa yang diharapkan, seperti membantu rekan di saat jam istirahat dengan sukarela adalah salah satu contohnya.
Dimensi OCB
Menurut Organ (1988) dalam Podsakoff dkk (2000) mengemukakan 5 dimensi yaitu :
1.      Altruism, yaitu perilaku membantu karyawan tanpa ada paksaan pada tugas-tugas yang berkaitan erat dengan operasi-operasi organizational.
2.      Civic virtue, kontribusi terhadap isu isu politik dalam suatu organisasi pada suatu tanggung jawab
3.      Conscinetiousness, perilaku tepat waktu, tingkat kehadiran tinggi, dan berada diatas persyaratan normal yang diharapkan
4.      Courtesy, perilaku sopan santun dan hormat yang ditunjukkan dalam setiap perilaku.
5.      Sportmanship, tidak suka memprotes atau mengajukan ketidakpuasan terhadap masalah kecil.
Dimensi yang lain juga diutarakan oleh Graham (1991) dalam Podsakoff (2000) mengenai konsep OCB yang berbasis pada filosofi politik dan teori politik modern yaitu :
1.      Obedience, menggambarkan kemauan karyawan untuk menerima dan mematuhi peraturan dan prosedur organisasi
2.      Loyality, menggambarkan kemauan karyawan untuk menempatkan kepentingan pribadi mereka untuk keuntungan dan kelangsungan organisasi
3.      Participation, menggambarkan kemauan karyawan untuk secara aktif mengembangkan seluruh aspek kehidupan organisasi.

 Dimensi OCB yang dikemukakan oleh Podsakoff dkk (2000) terbagi menjadi 7 dimensi yaitu :
1.      Helping. Seseorang yang memiliki OCB yang baik akan suka menolong orang lain meskipun tidak ada penghargaan untuk itu.
2.      Sportsmanship. Individu tidak complain saat diperlakukan kurang baik oleh rekannya dan tetap mengerjakan pekerjaannya dengan baik, atau bisa juga indiividu mengorbankan keinginan pribadinya demi pekerjaannya.
3.      Loyalty. Individu akan tetap setia pada organisasinya meski organisasi tersebut mengalami kondisi yang sedang sulit.
4.      Organizational compliance. Individu akan patuh bahkan kepada peraturan organisasi yang sangat ketat.
5.      Individual Initiative. Individu memiliki inisiatif yang lebih, misalnya seseorang akan bertanya jika tidak mengerti akan pekerjaannya, atau mengerjakan pekerjaannya tanpa harus menunggu diperintah terdahulu.
6.      Civic Virtue. Individu akan lebih tanggap terhadap hal-hal yang dilakukan pemerintah, sehingga individu tersebut akan menginformasikan mengenai perubahan yang terjadi dan menginformasikannya kepada organisasinya.
7.      Sef Developmant. Tindakan yang dilakukan secara sukarela yang dapat meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan.
Literatur-literatur OCB tersebut diatas mengindikasikan dimensi-dimensi yang berbeda-beda. Pada dasarnya dimensi-dimensi tersebut memiliki kesamaan konsep. Dengan kata lain, terjadi penamaan yang berbeda-beda terhadap dimensi yang sama, yang pada gilirannya mengakibatkan penggunaan-penggunaan ukuran yang tumpang tindih.
Peran Penting OCB terhadap Kinerja Organisasi
Borman dan Motowidlo (1993) dalam Dunlop dan Lee (2004) mengemukakan bahwa OCB para pekerja akan berfungsi untuk meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan.  Menurut Organ (1988), OCB berperan penting untuk meningkatkan kinerja organisasi karena OCB dapat mengurangi kebutuhan akan sumber daya-sumber daya yang langka/mahal untuk fungsi-fungsi perawatan/perbaikan dalam organisasi, meningkatkan produktifitas hubungan kerja atau manajerial.

Dari penelitian yang dilakukan Nugroho yaitu dengan sampel 1700 pegawai POLWILTABES Semarang memberikan hasil yang positif dan signifikan yaitu ada pengaruh perilaku organisasi yaitu OCB terhadap kinerja pegawai pada Kepolisian Republik Indonesia di Semarang. Aspek yang paling tinggi menonjol pada penelitian ini adalah pada Sportmanship.  Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Kambu, Troena, Surachman dan Setiawan (2012) mengenai pengaruh OCB pada pekerja di Papua menunjukkan korelasi yang signifikan. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Quzwini (2013) yaitu meneliti tentang tingkat OCB pada pegawai Lapas Kelas 1 Lowokmaru Malang menunjukkan tingkat OCB yang beragam, namun sebagian besar menunjukkan tingkat OCD yang rendah dan itu  mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan.
Secara spesifik OCB dapat mempengaruhi kinerja organisasi dalam hal :
1.      Mendorong peningkatan produktivitas manajer dan karyawan
2.      Mendorong penggunaan sumber-sumber daya yang dimiliki organisasi untuk tujuan yang lebih spesifik
3.      Mengurangi kebutuhan untuk menggunakan sumberdaya organisasi yang langka pada fungsi pemeliharaan
4.      Memfasilitasi aktifitas koordinasi diantara anggota tim dan kelompok kerja
5.      Meningkatkan kemampuan organisasi untuk memelihara dan mempertahankan karyawan yang berkualitas dengan membuat lingkungan kerja sebagai tempat yang lebih menyenangkan untuk bekerja
6.      Meningkatkan stabilitas kinerja organisasi dengan mengurangi keragaman variasi kinerja dari masing-masing unit organisasi
7.      Meningkatkan kemampuan organisasi untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Pembahasan
Dari semua referensi yang sudah disebutkan, juga dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Sesungguhnya OCB memiliki pengaruh yang signifikan didalam sebuah organisasi salah satunya pada kinerja organisasi dan tentunya keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya. Maka dari itu, sudah sepatutnya organisasi memberikan perhatian lebih kepada OCB para anggotanya, hal ini bisa dilakukan dalam penilaian kinerja karyawan mengingat perilaku di luar peran juga menjadi standar yang harus dipenuhi karyawan untuk menilai kinerja karyawannya. Organisasi dapat memulai dari memotivasi karyawan untuk berperilaku yang baik dan positif, melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mempererat hubungan para karyawan, dan menjadi agen perubahan dalam organisasi agar terciptalah iklim organisasi yang baik.

Referensi

Dunlop, P.D., Lee, K. (2004). Workplace deviance, organizational citizenship behavior, and business unit performance: the bad apples do spoil the whole barrel. Journal of Organizational Behavior, 25, 67-80. Doi: 10.1002/job243

Kambu, A, Troena, E, A., Surachman, Setiawan, M. (2012). Influence of leader-member exchange, perceived organizational support, papua etnich culture and organizational citizenship behavior toward employee performance of workers in Papua Provincial secretary office. Journal of Business and Management. 5. 4. Diunduh dari http://iosjurnal.org

Organ, D.W., Ryan, K. (1995). A meta-analytic review of attitudinal and dispositional predictors of organizational citizenship. Personal Psychology. 4, 775-802.

Podsakof, P.M., MacKenzie, S.B., Paine, J.B., dan Bachrach, D.G. (2000). Organizational Citizenship Behavior: a critical review of theoretical empirical literature and suggestions for future research. Journal of Management, 26 (3): 513-563

Quzwini, M. (2013). Organizational citizenship behavior pada pegawai lapas kelas 1 Lowokmaru Malang. Jurnal Online Psikologi.  1,133-142. Diunduh dari http://ejournal.umm.ac.id

Assifa, F. (2012, 23 Agustus). 121 PNS bolos kerja, Satu kepala dinas absen. Diunduh dari http://regional.kompas.com.


Sabtu, 09 November 2013

malam minggu kelabu



Yogyakarta, 09 November 2013

Senyummu, tawamu, dan suaramu.

Punggungmu, matamu, dan telapak tanganmu.

Marahmu, tangismu, dan maafmu.

Ingin kuraih semua yang ada pada dirimu.

Hari ini. Aku tau cinta tak berada disisiku.

Tapi kupercaya. 
Tuhan akan tetapkan kapan kita akan benar2 menyatu.

secuil asa. PASUKAN KUNING WANITA Kota Sangatta.



Yogyakarta, 10-03-2010.
 ini tulisan udah lama banget ada di notebook saya. tapi baru ini ada kesempatan untuk ngeshare :D

Tidak ada yang spesial ketika saya menulis ini, juga tidak ada yang spesial pada penyusunan kata-katanya. Namun bagi saya yang spesial adalah pengalaman yang saya alami 4 tahun silam yang saya tulis saat ini. Disini, saya hanya ingin menceritakan apa yang telah saya alami saat duduk di kursi SMP kelas 2. Saat itu, di sekolah diadakan pemilihan siswa teladan untuk mewakili sekolah ke tingkat provinsi.  Saya mencoba mengikutinya dan alhamdulillah sudah berhasil sampai pada seleksi kedua. Pada seleksi ketiga persyaratannya adalah membuat sebuah karya tulis yang akan dipresentasikan di depan Yayasan Sekolah dan kepada tokoh masyarakat setempat. Tentu hal ini membuat saya harus berpikir keras untuk menentukan  tema apa yang bisa saya angkat agar karya tulis ini mampu menarik perhatian para juri, karena begitu banyaknya peserta yang menurut saya notabene memiliki kecerdasan dan unggul daripada saya. Awalnya, saya merasa minder karena hanya seorang anak dari program beasiswa, sedangkan mereka adalah anak yang orang tuanya bekerja pada perusahaan yang mendirikan sekolah saya tersebut. Namun ini tidak mengecilkan hati saya, saya terus berusaha untuk mencari ide-ide dalam pembuatan karya tulis saya.

Suatu hari saya melewati jalan poros kota Sengata pada pukul 11 malam. Saat itu saya dalam perjalanan pulang dari sebuah acara dirumah teman. Saat itu jalan sudah sepi dan toko-toko sudah tutup. Namun, ada pemandangan unik yang bagi saya itu sangat menarik dan menggugah hati saya. Mereka dalam jumlah yang banyak, kadang seperti bergerombol, memakai seragam yang sama, berwarna kuning mencolok dan seperti menyala pada kegelapan malam, memakai masker, dan penampilan mereka terlihat sangat kotor dan kumuh. Di ujung jalan lainnya, saya melihat orang-orang yang berpakaian sama, baru turun dari sebuah truk. Dilihat dari usia, kebanyakan dari mereka adalah wanita separuh baya, dan laki-laki tua. Kegiatan mereka hanya satu yang saya lihat, yaitu menyapu jalanan kota di sepanjang jalan poros kota. Sungguh pemandangan ini membuat saya sangat terkesan, karena betapa minimnya pengetahuan saya, sehingga saya yang sudah menetap di sana selama 4 tahun baru saat itu melihat sendiri sebuah fenomena tersebut.  Saat itu saya berfikir, siapakah  mereka?

Pasukan Kuning, itu sebutan bagi mereka. Orang-orang yang bekerja disaat orang lain terlelap tidur. Dan yang lebih membuat hati saya tergugah adalah sebagian dari mereka merupakan wanita-wanita tua. Dan jumlah pekerja wanitanyapun melebihi jumlah pekerja laki-laki. Pengalaman ini langsung saja membuat saya ingin sekali menulis mengenai mereka di dalam karya tulis saya, saya lebih menekankan pada kemampuan wanita dan emansipasinya untuk meningkatkan derajat mereka di masyarakat juga kepada pemerintah. Ketulusan hati para pasukan kuning wanita tersebut tidak ada yang menyamai. Tindakan selanjutnya dari saya, saya membuat quisioner kepada mereka dan mewawancarai sebagian dari mereka. Malam pertama, saya sengaja menunggu kedatangan mereka dipinggir jalan poros, saat itu pukul 10 malam, saya menunggu hampir 1 jam lamanya, namun mereka tidak juga muncul-muncul. Hipotesa saya saat itu mengatakan mungkin saja mereka sedang tidak bekerja malam itu. Namun keesokan harinya juga seperti itu, saya tidak mendapatkan hasil. Mereka kembali tidak muncul. Malam ketiga, saya datang lebih lambat dari biasanya. Tanpa disangka, saya melihat mereka. Mereka bekerja di heningnya malam itu, hanya ada suara-suara gesekan sapu lidi dengan aspal jalan raya, dan suara-suara gurauan atau sapaan diantara mereka. Awalnya mereka tidak terlalu menghiraukan keberadaan saya, namun ketika saya mendekati seorang ibu-ibu dan mengajaknya untuk berbincang-bincang, ibu itu tertarik, dan dia menghentikan pekerjaannya. Saya pun menyampaikan tujuan saya datang dan ingin mewawancarai mereka. Respon ibu itu sungguh mengejutkan, dia berteriak memanggil pasukan kuning lainnya yang saat itu bekerja di sekitar jalan tersebut, mereka berkumpul didepan saya dengan antusias. Rasanya saya seperti seorang tamu, yang sudah sangat lama dinanti-nantikan mereka. Saya tidak tahu, apa pikiran mereka yang lebih terhadap saya, namun ekspresi mereka sangat beragam. Ibu-ibu berbaju seragam kuning lusuh, dengan wajah memelas, seperti mengharapkan sesuatu. Saya pun menyimpan pertanyaan-pertanyaan pokok saya, saya memulai dengan obrolan-obrolan kecil seputar kehidupan mereka dan perasaan-perasaan mereka bekerja sebagai pasukan kuning. Mereka sangat antusias dalam menjawab, mereka mengutarakan kesedihan mereka, ternyata selama ini, suara hati mereka tidak pernah sekalipun didengarkan oleh pemerintah daerah, mereka hanya diberi janji janji yang tidak tahu kapan akan ditepati. Sedih sekali mendengarnya, saya tidak menyangka kehidupan kota sengata yang notabene adalah kota dengan penghasilan sehari-hari sudah termasuk kategori tinggi dan di lingkungan perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia memiliki pekerja seperti pasukan kuning yang merasa tidak dianggap dan dikucilkan.

Malam itu saya berjanji kepada mereka untuk datang lagi pada malam berikutnya. Saya membagikan quisioner yang saya harapkan untuk mereka isi, karena dari quisioner itulah saya akan lebih tahu lebih dalam lagi tentang bagaimana kehidupan mereka, upah yang mereka dapat dari pekerjaan tersebut,  dan harapan-harapan mereka kepada pemerintah. Malam berikutnya saya datang kembali untuk mengambil quisioner tersebut, dan yang mengejutkan saya, tulisan-tulisan yang ada pada quisioner tersebut bukanlah tulisan para pasukan kuning wanita tersebut, melainkan tulisan anak-anak mereka. Para pekerja pasukan kuning tersebut mengaku bahwa mereka tidak bisa menulis, bahkan ada juga yang tidak bisa membaca. Sungguh buat hati saya miris. Apakah pemerintah tahu akan hal tersebut?

Dari hasil quisioner tersebut, dan observasi saya selama 2 malam itu, saya menjadi mengerti, ketulusan hati para pasukan kuning wanita tersebut, demi keluarga dan kehidupan mereka, mereka dengan semangat yang tinggi, bersuka cita, menerima pekerjaan tersebut, walau dengan upah yang minim. Dan acap kali dikucilkan oleh masyarakat. Tentu seharusnya masyarakat bisa melihat, pekerjaan tersebut telah mereka lakukan bertahun-tahun, untuk kebersihan kota, mengurangi polusi debu, dan tanpa pamrih mengaharapkan belas kasihan dari masyarakat dipinggir jalan raya kota terlebih-lebih kepada pemerintah. Mereka hanya ingin memperjuangkan emansipasi mereka, bahwa wanita yang kuat adalah wanita seperti mereka yang mampu bertahan hidup dengan kekurangan-kekurangan yang didapatkan. Mulianya pekerjaan mereka, karena pekerjaan seperti itu, pasti membutuhkan mental yang tidak sedikit. Saya pun tidak pernah menyangka, jika gaji yang mereka dapatkan tersebut digunakan untuk menyekolahkan anak, dan kebutuhan rumah lainnya. Pasti sangat kurang, namun mereka tetap terus memperjuangkan hak mereka. Kalau saja tidak ada wanita-wanita seperti mereka, keadaan kebersihan kota pasti tidak sebaik saat itu. Pekerjaan mereka yang dilakukan pada malam hari, disaat orang lain tertidur lelap, menggambarkan kegigihan mereka sebagai wanita yang tidak takut akan kerasnya kehidupan malam. Mereka memang bukanlah seperti  pekerja kantoran yang memakai pakaian rapi, bersih, dan berkelas, namun sikap apa adanya merekalah yang membuat saya sangat terkesan dan menurut saya lebih berharga dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Kalau saja semua orang dapat memikirkan hal yang sama, sungguh betapa bahagianya mereka karena merasa dianggap dan dianggap ada. Karena apapun pekerjaan tersebut, ketulusan hati dan keikhlasan dalam menjalankannyalah yang patut kita lihat, bukan dari besarnya gaji dan penampilan yang baik. Peluh mereka merupakan bukti keperkasaan mereka sebagai “PASUKAN KUNING WANITA”
Dari mengangkat mengenai Pasukan kuning wanita ini, Alhamdulillah saya berhasil lolos sampai Final ,dan meraih juara 1 siswa teladan periode itu. Terimakasih pasukan kuning. Cerita kehidupanmu membuat saya semakin berani dalam berkarya, untuk maju, dan menjadi wanita yang PERKASA.

note : berikut gambar yang saya ambil diawal tahun 2013. saya mengangkat pasukan kuning sebagai subjek skripsi saya. alhamdulillah.. dapat nilai memuaskan. muach muach buat ibu pasukan kuning. :D