Sabtu, 09 November 2013

secuil asa. PASUKAN KUNING WANITA Kota Sangatta.



Yogyakarta, 10-03-2010.
 ini tulisan udah lama banget ada di notebook saya. tapi baru ini ada kesempatan untuk ngeshare :D

Tidak ada yang spesial ketika saya menulis ini, juga tidak ada yang spesial pada penyusunan kata-katanya. Namun bagi saya yang spesial adalah pengalaman yang saya alami 4 tahun silam yang saya tulis saat ini. Disini, saya hanya ingin menceritakan apa yang telah saya alami saat duduk di kursi SMP kelas 2. Saat itu, di sekolah diadakan pemilihan siswa teladan untuk mewakili sekolah ke tingkat provinsi.  Saya mencoba mengikutinya dan alhamdulillah sudah berhasil sampai pada seleksi kedua. Pada seleksi ketiga persyaratannya adalah membuat sebuah karya tulis yang akan dipresentasikan di depan Yayasan Sekolah dan kepada tokoh masyarakat setempat. Tentu hal ini membuat saya harus berpikir keras untuk menentukan  tema apa yang bisa saya angkat agar karya tulis ini mampu menarik perhatian para juri, karena begitu banyaknya peserta yang menurut saya notabene memiliki kecerdasan dan unggul daripada saya. Awalnya, saya merasa minder karena hanya seorang anak dari program beasiswa, sedangkan mereka adalah anak yang orang tuanya bekerja pada perusahaan yang mendirikan sekolah saya tersebut. Namun ini tidak mengecilkan hati saya, saya terus berusaha untuk mencari ide-ide dalam pembuatan karya tulis saya.

Suatu hari saya melewati jalan poros kota Sengata pada pukul 11 malam. Saat itu saya dalam perjalanan pulang dari sebuah acara dirumah teman. Saat itu jalan sudah sepi dan toko-toko sudah tutup. Namun, ada pemandangan unik yang bagi saya itu sangat menarik dan menggugah hati saya. Mereka dalam jumlah yang banyak, kadang seperti bergerombol, memakai seragam yang sama, berwarna kuning mencolok dan seperti menyala pada kegelapan malam, memakai masker, dan penampilan mereka terlihat sangat kotor dan kumuh. Di ujung jalan lainnya, saya melihat orang-orang yang berpakaian sama, baru turun dari sebuah truk. Dilihat dari usia, kebanyakan dari mereka adalah wanita separuh baya, dan laki-laki tua. Kegiatan mereka hanya satu yang saya lihat, yaitu menyapu jalanan kota di sepanjang jalan poros kota. Sungguh pemandangan ini membuat saya sangat terkesan, karena betapa minimnya pengetahuan saya, sehingga saya yang sudah menetap di sana selama 4 tahun baru saat itu melihat sendiri sebuah fenomena tersebut.  Saat itu saya berfikir, siapakah  mereka?

Pasukan Kuning, itu sebutan bagi mereka. Orang-orang yang bekerja disaat orang lain terlelap tidur. Dan yang lebih membuat hati saya tergugah adalah sebagian dari mereka merupakan wanita-wanita tua. Dan jumlah pekerja wanitanyapun melebihi jumlah pekerja laki-laki. Pengalaman ini langsung saja membuat saya ingin sekali menulis mengenai mereka di dalam karya tulis saya, saya lebih menekankan pada kemampuan wanita dan emansipasinya untuk meningkatkan derajat mereka di masyarakat juga kepada pemerintah. Ketulusan hati para pasukan kuning wanita tersebut tidak ada yang menyamai. Tindakan selanjutnya dari saya, saya membuat quisioner kepada mereka dan mewawancarai sebagian dari mereka. Malam pertama, saya sengaja menunggu kedatangan mereka dipinggir jalan poros, saat itu pukul 10 malam, saya menunggu hampir 1 jam lamanya, namun mereka tidak juga muncul-muncul. Hipotesa saya saat itu mengatakan mungkin saja mereka sedang tidak bekerja malam itu. Namun keesokan harinya juga seperti itu, saya tidak mendapatkan hasil. Mereka kembali tidak muncul. Malam ketiga, saya datang lebih lambat dari biasanya. Tanpa disangka, saya melihat mereka. Mereka bekerja di heningnya malam itu, hanya ada suara-suara gesekan sapu lidi dengan aspal jalan raya, dan suara-suara gurauan atau sapaan diantara mereka. Awalnya mereka tidak terlalu menghiraukan keberadaan saya, namun ketika saya mendekati seorang ibu-ibu dan mengajaknya untuk berbincang-bincang, ibu itu tertarik, dan dia menghentikan pekerjaannya. Saya pun menyampaikan tujuan saya datang dan ingin mewawancarai mereka. Respon ibu itu sungguh mengejutkan, dia berteriak memanggil pasukan kuning lainnya yang saat itu bekerja di sekitar jalan tersebut, mereka berkumpul didepan saya dengan antusias. Rasanya saya seperti seorang tamu, yang sudah sangat lama dinanti-nantikan mereka. Saya tidak tahu, apa pikiran mereka yang lebih terhadap saya, namun ekspresi mereka sangat beragam. Ibu-ibu berbaju seragam kuning lusuh, dengan wajah memelas, seperti mengharapkan sesuatu. Saya pun menyimpan pertanyaan-pertanyaan pokok saya, saya memulai dengan obrolan-obrolan kecil seputar kehidupan mereka dan perasaan-perasaan mereka bekerja sebagai pasukan kuning. Mereka sangat antusias dalam menjawab, mereka mengutarakan kesedihan mereka, ternyata selama ini, suara hati mereka tidak pernah sekalipun didengarkan oleh pemerintah daerah, mereka hanya diberi janji janji yang tidak tahu kapan akan ditepati. Sedih sekali mendengarnya, saya tidak menyangka kehidupan kota sengata yang notabene adalah kota dengan penghasilan sehari-hari sudah termasuk kategori tinggi dan di lingkungan perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia memiliki pekerja seperti pasukan kuning yang merasa tidak dianggap dan dikucilkan.

Malam itu saya berjanji kepada mereka untuk datang lagi pada malam berikutnya. Saya membagikan quisioner yang saya harapkan untuk mereka isi, karena dari quisioner itulah saya akan lebih tahu lebih dalam lagi tentang bagaimana kehidupan mereka, upah yang mereka dapat dari pekerjaan tersebut,  dan harapan-harapan mereka kepada pemerintah. Malam berikutnya saya datang kembali untuk mengambil quisioner tersebut, dan yang mengejutkan saya, tulisan-tulisan yang ada pada quisioner tersebut bukanlah tulisan para pasukan kuning wanita tersebut, melainkan tulisan anak-anak mereka. Para pekerja pasukan kuning tersebut mengaku bahwa mereka tidak bisa menulis, bahkan ada juga yang tidak bisa membaca. Sungguh buat hati saya miris. Apakah pemerintah tahu akan hal tersebut?

Dari hasil quisioner tersebut, dan observasi saya selama 2 malam itu, saya menjadi mengerti, ketulusan hati para pasukan kuning wanita tersebut, demi keluarga dan kehidupan mereka, mereka dengan semangat yang tinggi, bersuka cita, menerima pekerjaan tersebut, walau dengan upah yang minim. Dan acap kali dikucilkan oleh masyarakat. Tentu seharusnya masyarakat bisa melihat, pekerjaan tersebut telah mereka lakukan bertahun-tahun, untuk kebersihan kota, mengurangi polusi debu, dan tanpa pamrih mengaharapkan belas kasihan dari masyarakat dipinggir jalan raya kota terlebih-lebih kepada pemerintah. Mereka hanya ingin memperjuangkan emansipasi mereka, bahwa wanita yang kuat adalah wanita seperti mereka yang mampu bertahan hidup dengan kekurangan-kekurangan yang didapatkan. Mulianya pekerjaan mereka, karena pekerjaan seperti itu, pasti membutuhkan mental yang tidak sedikit. Saya pun tidak pernah menyangka, jika gaji yang mereka dapatkan tersebut digunakan untuk menyekolahkan anak, dan kebutuhan rumah lainnya. Pasti sangat kurang, namun mereka tetap terus memperjuangkan hak mereka. Kalau saja tidak ada wanita-wanita seperti mereka, keadaan kebersihan kota pasti tidak sebaik saat itu. Pekerjaan mereka yang dilakukan pada malam hari, disaat orang lain tertidur lelap, menggambarkan kegigihan mereka sebagai wanita yang tidak takut akan kerasnya kehidupan malam. Mereka memang bukanlah seperti  pekerja kantoran yang memakai pakaian rapi, bersih, dan berkelas, namun sikap apa adanya merekalah yang membuat saya sangat terkesan dan menurut saya lebih berharga dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Kalau saja semua orang dapat memikirkan hal yang sama, sungguh betapa bahagianya mereka karena merasa dianggap dan dianggap ada. Karena apapun pekerjaan tersebut, ketulusan hati dan keikhlasan dalam menjalankannyalah yang patut kita lihat, bukan dari besarnya gaji dan penampilan yang baik. Peluh mereka merupakan bukti keperkasaan mereka sebagai “PASUKAN KUNING WANITA”
Dari mengangkat mengenai Pasukan kuning wanita ini, Alhamdulillah saya berhasil lolos sampai Final ,dan meraih juara 1 siswa teladan periode itu. Terimakasih pasukan kuning. Cerita kehidupanmu membuat saya semakin berani dalam berkarya, untuk maju, dan menjadi wanita yang PERKASA.

note : berikut gambar yang saya ambil diawal tahun 2013. saya mengangkat pasukan kuning sebagai subjek skripsi saya. alhamdulillah.. dapat nilai memuaskan. muach muach buat ibu pasukan kuning. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar