Yogyakarta,
10-03-2010.
ini tulisan udah lama banget ada di notebook saya. tapi baru ini ada kesempatan untuk ngeshare :D
Tidak ada yang
spesial ketika saya menulis ini, juga tidak ada yang spesial pada penyusunan
kata-katanya. Namun bagi saya yang spesial adalah pengalaman yang saya alami 4
tahun silam yang saya tulis saat ini. Disini, saya hanya ingin menceritakan apa
yang telah saya alami saat duduk di kursi SMP kelas 2. Saat itu, di sekolah
diadakan pemilihan siswa teladan untuk mewakili sekolah ke tingkat
provinsi. Saya mencoba mengikutinya dan
alhamdulillah sudah berhasil sampai pada seleksi kedua. Pada seleksi ketiga
persyaratannya adalah membuat sebuah karya tulis yang akan dipresentasikan di
depan Yayasan Sekolah dan kepada tokoh masyarakat setempat. Tentu hal ini
membuat saya harus berpikir keras untuk menentukan tema apa yang bisa saya angkat agar karya
tulis ini mampu menarik perhatian para juri, karena begitu banyaknya peserta
yang menurut saya notabene memiliki kecerdasan dan unggul daripada saya.
Awalnya, saya merasa minder karena hanya seorang anak dari program beasiswa,
sedangkan mereka adalah anak yang orang tuanya bekerja pada perusahaan yang
mendirikan sekolah saya tersebut. Namun ini tidak mengecilkan hati saya, saya
terus berusaha untuk mencari ide-ide dalam pembuatan karya tulis saya.
Suatu hari saya
melewati jalan poros kota Sengata pada pukul 11 malam. Saat itu saya dalam
perjalanan pulang dari sebuah acara dirumah teman. Saat itu jalan sudah sepi
dan toko-toko sudah tutup. Namun, ada pemandangan unik yang bagi saya itu
sangat menarik dan menggugah hati saya. Mereka dalam jumlah yang banyak, kadang
seperti bergerombol, memakai seragam yang sama, berwarna kuning mencolok dan
seperti menyala pada kegelapan malam, memakai masker, dan penampilan mereka
terlihat sangat kotor dan kumuh. Di ujung jalan lainnya, saya melihat
orang-orang yang berpakaian sama, baru turun dari sebuah truk. Dilihat dari
usia, kebanyakan dari mereka adalah wanita separuh baya, dan laki-laki tua.
Kegiatan mereka hanya satu yang saya lihat, yaitu menyapu jalanan kota di
sepanjang jalan poros kota. Sungguh pemandangan ini membuat saya sangat
terkesan, karena betapa minimnya pengetahuan saya, sehingga saya yang sudah
menetap di sana selama 4 tahun baru saat itu melihat sendiri sebuah fenomena
tersebut. Saat itu saya berfikir, siapakah
mereka?
Pasukan Kuning,
itu sebutan bagi mereka. Orang-orang yang bekerja disaat orang lain terlelap
tidur. Dan yang lebih membuat hati saya tergugah adalah sebagian dari mereka
merupakan wanita-wanita tua. Dan jumlah pekerja wanitanyapun melebihi jumlah
pekerja laki-laki. Pengalaman ini langsung saja membuat saya ingin sekali
menulis mengenai mereka di dalam karya tulis saya, saya lebih menekankan pada
kemampuan wanita dan emansipasinya untuk meningkatkan derajat mereka di masyarakat
juga kepada pemerintah. Ketulusan hati para pasukan kuning wanita tersebut
tidak ada yang menyamai. Tindakan selanjutnya dari saya, saya membuat quisioner
kepada mereka dan mewawancarai sebagian dari mereka. Malam pertama, saya
sengaja menunggu kedatangan mereka dipinggir jalan poros, saat itu pukul 10
malam, saya menunggu hampir 1 jam lamanya, namun mereka tidak juga muncul-muncul.
Hipotesa saya saat itu mengatakan mungkin saja mereka sedang tidak bekerja
malam itu. Namun keesokan harinya juga seperti itu, saya tidak mendapatkan hasil.
Mereka kembali tidak muncul. Malam ketiga, saya datang lebih lambat dari
biasanya. Tanpa disangka, saya melihat mereka. Mereka bekerja di heningnya
malam itu, hanya ada suara-suara gesekan sapu lidi dengan aspal jalan raya, dan
suara-suara gurauan atau sapaan diantara mereka. Awalnya mereka tidak terlalu
menghiraukan keberadaan saya, namun ketika saya mendekati seorang ibu-ibu dan
mengajaknya untuk berbincang-bincang, ibu itu tertarik, dan dia menghentikan
pekerjaannya. Saya pun menyampaikan tujuan saya datang dan ingin mewawancarai
mereka. Respon ibu itu sungguh mengejutkan, dia berteriak memanggil pasukan
kuning lainnya yang saat itu bekerja di sekitar jalan tersebut, mereka
berkumpul didepan saya dengan antusias. Rasanya saya seperti seorang tamu, yang
sudah sangat lama dinanti-nantikan mereka. Saya tidak tahu, apa pikiran mereka
yang lebih terhadap saya, namun ekspresi mereka sangat beragam. Ibu-ibu berbaju
seragam kuning lusuh, dengan wajah memelas, seperti mengharapkan sesuatu. Saya
pun menyimpan pertanyaan-pertanyaan pokok saya, saya memulai dengan
obrolan-obrolan kecil seputar kehidupan mereka dan perasaan-perasaan mereka
bekerja sebagai pasukan kuning. Mereka sangat antusias dalam menjawab, mereka
mengutarakan kesedihan mereka, ternyata selama ini, suara hati mereka tidak
pernah sekalipun didengarkan oleh pemerintah daerah, mereka hanya diberi janji
janji yang tidak tahu kapan akan ditepati. Sedih sekali mendengarnya, saya
tidak menyangka kehidupan kota sengata yang notabene adalah kota dengan penghasilan
sehari-hari sudah termasuk kategori tinggi dan di lingkungan perusahaan tambang
batu bara terbesar di Indonesia memiliki pekerja seperti pasukan kuning yang
merasa tidak dianggap dan dikucilkan.
Malam itu saya
berjanji kepada mereka untuk datang lagi pada malam berikutnya. Saya membagikan
quisioner yang saya harapkan untuk mereka isi, karena dari quisioner itulah
saya akan lebih tahu lebih dalam lagi tentang bagaimana kehidupan mereka, upah
yang mereka dapat dari pekerjaan tersebut,
dan harapan-harapan mereka kepada pemerintah. Malam berikutnya saya
datang kembali untuk mengambil quisioner tersebut, dan yang mengejutkan saya,
tulisan-tulisan yang ada pada quisioner tersebut bukanlah tulisan para pasukan
kuning wanita tersebut, melainkan tulisan anak-anak mereka. Para pekerja
pasukan kuning tersebut mengaku bahwa mereka tidak bisa menulis, bahkan ada
juga yang tidak bisa membaca. Sungguh buat hati saya miris. Apakah pemerintah
tahu akan hal tersebut?
Dari hasil
quisioner tersebut, dan observasi saya selama 2 malam itu, saya menjadi
mengerti, ketulusan hati para pasukan kuning wanita tersebut, demi keluarga dan
kehidupan mereka, mereka dengan semangat yang tinggi, bersuka cita, menerima
pekerjaan tersebut, walau dengan upah yang minim. Dan acap kali dikucilkan oleh
masyarakat. Tentu seharusnya masyarakat bisa melihat, pekerjaan tersebut telah
mereka lakukan bertahun-tahun, untuk kebersihan kota, mengurangi polusi debu,
dan tanpa pamrih mengaharapkan belas kasihan dari masyarakat dipinggir jalan
raya kota terlebih-lebih kepada pemerintah. Mereka hanya ingin memperjuangkan
emansipasi mereka, bahwa wanita yang kuat adalah wanita seperti mereka yang
mampu bertahan hidup dengan kekurangan-kekurangan yang didapatkan. Mulianya
pekerjaan mereka, karena pekerjaan seperti itu, pasti membutuhkan mental yang
tidak sedikit. Saya pun tidak pernah menyangka, jika gaji yang mereka dapatkan
tersebut digunakan untuk menyekolahkan anak, dan kebutuhan rumah lainnya. Pasti
sangat kurang, namun mereka tetap terus memperjuangkan hak mereka. Kalau saja
tidak ada wanita-wanita seperti mereka, keadaan kebersihan kota pasti tidak
sebaik saat itu. Pekerjaan mereka yang dilakukan pada malam hari, disaat orang
lain tertidur lelap, menggambarkan kegigihan mereka sebagai wanita yang tidak
takut akan kerasnya kehidupan malam. Mereka memang bukanlah seperti pekerja kantoran yang memakai pakaian rapi,
bersih, dan berkelas, namun sikap apa adanya merekalah yang membuat saya sangat
terkesan dan menurut saya lebih berharga dibandingkan pekerjaan-pekerjaan
lainnya. Kalau saja semua orang dapat memikirkan hal yang sama, sungguh betapa
bahagianya mereka karena merasa dianggap dan dianggap ada. Karena apapun
pekerjaan tersebut, ketulusan hati dan keikhlasan dalam menjalankannyalah yang
patut kita lihat, bukan dari besarnya gaji dan penampilan yang baik. Peluh
mereka merupakan bukti keperkasaan mereka sebagai “PASUKAN KUNING WANITA”
Dari mengangkat
mengenai Pasukan kuning wanita ini, Alhamdulillah saya berhasil lolos sampai
Final ,dan meraih juara 1 siswa teladan periode itu. Terimakasih pasukan
kuning. Cerita kehidupanmu membuat saya semakin berani dalam berkarya, untuk
maju, dan menjadi wanita yang PERKASA.
note : berikut gambar yang saya ambil diawal tahun 2013. saya mengangkat pasukan kuning sebagai subjek skripsi saya. alhamdulillah.. dapat nilai memuaskan. muach muach buat ibu pasukan kuning. :D